- zimmy permana sembiring
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- aku adalah anak yang dilahirkan untuk mengubah dunia dan aku akan membentuk paradigma baru....
Tampilkan postingan dengan label kementerian desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kementerian desa. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 April 2020
PELATIHAN INFOGRAFIS ALA TEMPO
PENGALAMAN MENGIKUTI PELATIHAN INFOGRAFIS ALA TEMPO
Tempat
pelatihan:
Gedung Tempo Lt.5 Jl.
Palmerah Barat no. 8, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Tanggal
pelaksanaan pelatihan :
Pelatihan Infografis dilaksanakan pada Selasa s.d Kamis,
9 – 11 April 2019
Pelaksanaan
Pelatihan :
A. Selasa, 9 April 2019
1. Pelatihan Infografis dimulai
dengan Perkenalan peserta dan Panitia Pelatihan mengenai Infografis dan tujuan
Pembelajaran infografis. Panitia Pelatihan menjelaskan tentang metode belajar
orang dewasa dan penekanan belajar partisipasif (Diskusi, Praktik, dan
Monitoring) dalam pelatihan Infografis ala Tempo.
2. Pelatihan dilanjutkan dengan
materi tentang Infografik sebagai Komunikasi visual dan bagaimana menampilkan
data verbal menjadi data visual yang disampaikan oleh Kepala Pengembangan
Produk Digital Tempo Media, Bapak Yosep Suprayogi. Pada Sesi ini peserta
pelatihan mempelajari:
a.
Pentingnya penggunaan infografik dalam penyampaian
informasi;
b.
Penyampaian Ragam infografik, beserta dengan hasil
pelatihan peserta sebelumnya;
c.
Mempelajari langkah demi langkah membuat infografik
:
·
Bagaimana menemukan Ide/kata kunci;
·
Menceritakan konteks nilai berita;
·
Bagaimana Menceritakan data dalam infografik;
·
Pengumpulan Bahan;
·
Visualisasi;
·
Revisi.
d.
Melakukan Simulasi Kelompok mengenai ide, angle,
outline dan eksekusi.
3. Setelah penyampaian materi dari
Bapak Yosep Suprayogi, pelatihan dilanjutkan dengan materi visualisasi data dan
tools infografik yang di sampaikan oleh Menejer laboratorium media tempo, Bapak
Moerat Sitompul. Pada sesi ini peserta pelatihan mempelajari :
a. Bagaimana bekerja dengan Data;
b. Bagaimana Memilih data yang
sesuai dengan kebutuhan;
c.
Berkenalan dengan aplikasi Piktochart;
d. Tips dalam mendesain.
4. Pelatihan diakhiri dengan evaluasi
pelatihan infografis.
B. Rabu, 10 April 2019
1. Pelatihan Infografis pada hari
kedua diawali dengan pelatihan menemukan ide dan menyusun outline menjadi
infografik yang disampaikan Desainer Senior Tempo, Bapak. Ehwan Kurniawan. Pada
sesi ini peserta pelatihan mempelajari:
a.
Menemukan ide, Menentukan sudut pandang/angle dengan teknik Mind Mapping;
b.
Membuat Outline infografis;
c.
Bagaimanamenyiapkan elemen verbal : judul, pengantar
dan narasi;
d.
Menyiapkan elemen visual;
e.
Bagaimana menyatukan elemen verbal dan visual
menjadi sebuah infografis.
2. Setelah penyampaian materi dari
Bapak Ehwan Kurniawan. Pelatihan dilanjutkan dengan penyampaian Bahasa
Infografik dari Redaktur Bahasa Tempo, Bapak Uksu Suhardi. Peserta Pelatihan mempelajari
mengenai bahasa efektif yang digunakan dalam pemyampaian infografik.
3. Setelah pemberian Materi,
peserta pelatihan infografis bersama mentor/pelatih mulai mempraktekan cara
membuat Infografis menggunakan aplikasi Piktochart.
4. Pelatihan diakhiri dengan evaluasi
pelatihan infografis.
C. Kamis, 11 April 2019
1.
Pada hari ketiga, pelatihan dimulai dengan evaluasi
dan membuat karya infografis berdasarkan data yang di bawa peserta pelatihan.
Pembuatan infografis di bimbingan dengan mentor dan pelatih yang disiapkan
panitia/fasilitator pelatihan infografis tempo.
2.
Setelah peserta pelatihan selesai membuat
infografis, para mentor mengevaluasi hasil karya infografis peserta dengan
memberikan masukan dan bimbingan agar hasil infografis bisa dibuat lebih baik
dan menarik bagi pengguna informasi.
3.
Setelah selesai evaluasi hasil karya infografis
peserta pelatihan, kegiatan pelatihan infografis ala tempo di tutup.
IDokumentasi
|
|
|
Peserta pelatihan menjelaskan infografis
|
|
|
|
|
Hasil
Karya Pelatihan
|
Hasil
Karya Infografis : Zimmy Permana Sembiring
|
Senin, 13 April 2020
CONTOH LAMPIRAN AKTUALISASI LATIHAN DASAR CPNS KEMENDES
|
LAMPIRAN
|
![]() ![]()
Melakukan konsultasi dengan Kepala
Seksi dan Kepala Subdit Wil. III tentang komponen apa saja yang harus diukur
dalam kegiatan monitoring
|
|
Membuat rancangan komponen data dalam basis data yang akan dibuat
serta menyerahkannya kepada mentor
|
![]()
Membuat konsep kerangka basis data hasil
monitoring pembangunan pelayanan dasar
|
![]() Menyerahkan konsep kerangka basis data hasil monitoring pembangunan
pelayanan dasar kepada mentor |
![]() ![]()
Membuat
konsep kerangka formulir pendataan monitoring
pembangunan pelayanan dasar
|
![]()
Menyiapkan konsep panduan pengisian
formulir pendataan monitoring
pembangunan pelayanan dasar
|
![]() Menyerahan konsep panduan pengisian formulir pendataan monitoring pembangunan pelayanan dasar
kepada mentor |
![]() Mengambil contoh kegiatan monitoring
yang sudah dilaksanakan di dalam berita acara Mutual Check 0% (MC0%) kemudian memasukkan data yang ada ke dalam
formulir pendataan monitoring |
![]() ![]()
Memasukkan data dari formulir pendataan
kegiatan monitoring ke dalam
kerangka basis data
|
![]()
Melakukan evaluasi data yang tidak dapat
terpenuhi oleh berita acara MC 0% dan
Monev ke dalam kerangka basis data hasil monitoring pembangunan pelayanan
dasar
|
![]()
Menyiapkan bahan paparan dan bahan
pegangan peserta sosialisasi tata cara mengisi formulir pendataan monitoring
|
![]() Melengkapi persyaratan administrasi pelaksanaan kegiatan sosialisasi berupa surat izin pelaksanaan
kegiatan dan peminjaman ruangan |
![]() ![]()
Membuat dan menyerahkan undangan kepada
seluruh staf pelaksana kegiatan monitoring
pembangunan di wilayah III
|
![]() ![]()
Melaksanakan sosialisasi tata cara mengisi
formulir pendataan kegiatan monitoring
pembangunan pelayan dasar Wilayah III
|
Mengevaluasi pelaksananaan kegiatan sosialisasi tata cara mengisi
formulir pendataan kegiatan monitoring dan kerangka basis data
pembangunan pelayanan dasar wilayah III |
![]()
Menyerahkan formulir kepada pelaksana monitoring di wilayah III
|
![]() ![]()
Melakukan pengisian data hasil monitoring
pembangunan pelayanan dasar pada kerangka basis data yang sudah disiapkan
|
![]() ![]()
Membuat laporan bulanan progres pekerjaan
pembangunan pelayanan dasar wilayah III
|
![]()
Membuat laporan akhir analisis proses
pembangunan sampai dengan Desember 2018
|
Penentuan Lokasi, Rancangan, dan Pembuatan Embung untuk Pertanian
“Penentuan Lokasi, Rancangan, dan Pembuatan Embung
untuk Pertanian”
Budi Indra Setiawan1,
Yanuar Chandra Wirasembada1, Wahyu Priya Kusanda 2,
Sagita Laksmi Jannati2, Ani Andayani 3
1Institut Pertanian Bogor
2PT Teknindo Geosistem Unggul
3Kementerian Pertanian
Ditelaah oleh: Zimmy Permana Sembiring (Dit. PSPKP Wilayah III)
Bab 1 Pendahuluan
Embung adalah
kolam besar yang digunakan untuk menampung air. Terdapat tiga sumber air untuk
mengisi embung. Ketiga sumber ini dapat dimanfaarkan secara bersamaan maupun
terpisah sesuai potensi wilayah dengan tujuan untuk pemanfaatan air ataupun
mengatasi masalah genangan air yang tak terkendali (Gambar 1).
Air hujan
ditampung menjadi sumber air bersih dilingkungan dalam permukiman agar mudah
diakses masyarakat sedangkan untuk pertanian
maka air harus ditampung didaerah hulu untuk dapat kemudian dialirkan
menggunakan gaya gravitasi yang kapasitasnya disesuaikan dengan kebutuhan untuk
irigasi. Untuk pemanfaatan pertanian perlu dikaji neraca air dan perencanaan.

Gambar
1. sumber air embung dan tujuan pembangunan embung
Bab 2 Penentuan Lokasi
Embung
Dalam penentuan lokasi embung
diperlukan informasi berupa:
1. Peta Lokasi
2.
Peta
Digital Tutupan Lahan (BIG)
3.
Peta
Digital Kontur (BIG)
4. Curah Hujan Harian (BMKG)

Gambar
2. Diagram proses penentuan lokasi embung.
Pada
Gambar 2 dijelaskan bahwa penentuan
lokasi melalui hasil uji geoteknik, lokasi harus memiliki kekerasan yang kecil
dan mampu digali>4m maka dikatakan layak. Rumus yang dipakai untuk
menentukan kedalaman rencana sesuai dengan kebutuhan volume air yaitu
Dimana:
H =
Rencana Kedalaman Embung (m)
V =
Volume Total Kebutuhan (liter)
L =
Rencana Luas Lokasi (m2)
Bab 3 Perancangan Embung
Perancangan embung
dilakukan apabila lokasi rencana embung sudah ditetapkan. Pada Gambar 3 dijelaskan
bahwa proses
perancangan embung dimulai dari pengukuran lahan pada lokasi yang sudah
ditentukan hingga pembuatan Bill Of Quantity (BOQ) yaitu estimasi kebutuhan
bahan pekerjaan embung.

Gambar
3. Proses Perancangan Embung
Bagian-bagian yang terdapat dalam suatu
desain embung pada Gambar 4 yaitu:
1.
Kolam
kuras yaitu cekungan tempat berkumpulnya air apabila terjadi kekeringan dan
lokasi penempatan pipa kuras.
2.
Angkur
geomembran untuk menghubungkan dinding dengan slope.
3.
Pipa
outlet atau pipa kuras.
4.
CB
atau boks kontrol. Terdapat 2 CB untuk menguras dan untuk irigasi. CB pipa
kuras lebih dalam dari CB pipa irigasi dengan kemiringan pipa 2%.
5.
Sambungan
pipa dan geomembran dengan metode extrusion
welding untuk merekatkan geomembran dengan pipa.
6.
Saluran
limpasan air untuk menyalurkan air kesumur resapan.
7.
Saluran
Inlet untuk menyalurkan air limpasan permukaan kedalam embung dengan elevasi 2%.
8.
Pagar
keliling untuk melindungi embung dari penggunaan lain yang tidak ditentukan.
9.
Panel
geomembran yang disesuaikan dengan ukuran geomembran tebal 1 mm.
10. Sumur resapan disesuaikan
dengan kebutuhan. Bagian dasar filter terdiri dari kerikil dan ijuk .
11. Pembuatan Bill of Quantity (BOQ) yang berisi jumlah kebutuhan bahan pembuatan
embung sesuai dengan shop drawing.

Gambar 4.
Contoh Rancang Embung Angsoka, Desa Pengla’an Jaya, Kecamatan Tlanakan,
Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur
Bab
4 Pembuatan Embung
Kegiatan pembuatan
embung dilakukan dimulai dari kegiatan, yaitu:
1.
Penggalian
tanah dengan menggunakan excavator dan atau dozer.
2.
Pemasangan
geomembran dengan memastikan permukaan tanah sudah rata dan tidka ada benda
tajam yang bisa merusak.
3.
Penyambungan
geomembran dengan dua tipe yaitu hot wedge welder mnyambungkan geomembran dan geomembran
serta extrusion welder untuk menghubungkan geomembran dan pipa. Setelah geomembran
sudah tersambung dilakukan uji tarik dan kebocoran.
4.
Pengisian
air biasanya dilakukan pada musim hujan. Apabila sudah terisi dilakukan uji
kebocoran dengan membandingkan pan evapori dan
laju penurunan muka air. Apabila terdapat anomali penurunan muka air
maka dipastikan masih terdpat kebocoran.
5.
Pemanfaatan
air dilakukan sesuai dengan tujuan pembangunan
embung.
Bab
5 Penutup
Pembangunan embung
perlu disesuaikan dengan pemanfaatannya. Apabila ditujukan untuk irigasi maka
pemilihan lokasi pembangunan embung akan sangat penting. Umumnya pembangunan
akan diprioritaskan didaerah hulu karena memiliki energi potensial lebih
tinggi.
Penyusun,
Zimmy Permana Sembiring
S.T
|
Langganan:
Postingan (Atom)


































